Hati-hati! Lisan dapat Membahayakan Nyawa Orang Lain

medium_6hati-hati-lisan-dapat-membahayakan-nyawa-orang-lainSahabat Ummi, berkatalah yang baik-baik atau diam saja. Begitu Islam mengajarkan ummatnya seperti tersebut dalam hadis ini; “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Daripada berkata-kata yang mungkin berakibat fatal, memang lebih baik diam saja.Sekarang ini lisan bentuknya bermacam-macam. Tidak hanya keluar diantara dua bibir, tetapi cukup dengan ketukan jemari maka sebentar saja, sebait, dua bait atau lebih kalimat meluncur bebas di lahan yang tak bertepi.

Jika baik dan bermanfaat lalu dishare oleh orang banyak maka insya Allah pahala akan mengalir kepada si empunya lisan dan mereka yang menyebarkannya. Sebuah hadist oleh Abu Musa al-Asy’ari, “Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah muslim yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Seorang muslim, yang mana kaum muslimin selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sahabat Ummi, semoga kita bisa mencapai derajat manusia yang utama itu. Untuk itu mari kita berdoa agar terhindar dari lisan yang membahayakan orang lain. Dan berlindung kepada Allah dari berkata-kata yang tidak bermanfaat dan memohon ampunannya jika pernah terdengar atau terbaca dari lisan kita hal-hal yang tidak bermanfaat dan menyakiti sesama. Astagfirullah… Faghfirliii…

Kebetulan saya punya pengalaman yang terkait dengan omongan yang ceplas ceplos tak dipikir, lisan yang tidak dijaga ini dapat berakibat fatal. Mungkin bisa kita jadikan pelajaran bersama.

Menjelang kelahiran putraku yang kedua, tekanan darahku tiba-tiba melonjak tinggi. Anehnya, aku tidak pernah punya riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya. Itu terjadi saat aku sudah di kamar bersalin dan menurut dokter hal ini sangat berbahaya buat keselamatanku dan bayi.

Anak pertamaku lahir secara caesar, karena itu aku tidak pernah tahu bagaimana sakitnya menjelang kelahiran. Menjelang kelahiran anak keduaku, sedang sakit-sakitnya, aku bertanya ke salah seorang perawat yang lewat. “Kapan kira-kira aku melahirkan ya perawat?” Berharap mendapat jawaban yang sedikit menghibur, eh malah jawaban ketus yang kudapat, “Ya tak tau. Mungkin sebentar lagi. Mungkin juga besok.”

Masya Allah, besok? Pikirku. Perasaan panik menyerang tiba-tiba diantara rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Bulir airmata pun tak dapat kutahan lagi, “Ya Allah, aku tak akan sanggup bertahan menahan sakit seperti ini sampai besok.” Keluhku dalam hati.

Dengan rasa yang campur aduk, aku berteriak memanggil dokter. Setelah dokter datang, dokter pun ikut panik melihat bacaan tekanan darahku 240. Dokter dan perawat pun sibuk nanya-nanya dan memeriksa soal riwayat tekanan darahku.

Untungnya keadaan itu tidak berlangsung lama. Pada saat yang sama perasaan ingin mengejan tak bisa kutahan lagi. Dokter segera memeriksa dan rupanya kepala sudah di pintu. Saat itu juga bayiku lahir dengan selamat.

Setelah semuanya beres dan tenang kembali tekanan darahku diperiksa sekali lagi, dan alhamdulillah sudah normal kembali. Betapa dahsyatnya sebuah kata-kata. Hampir saja membahayakan dua jiwa sekaligus. Masya Allah!

Demikian salah satu contoh kisah bahaya yang ditimbulkan oleh lisan yang keluar tanpa dipikir. Sekarang ini sangat mudah sekali kita menjumpai kisah-kisah yang lebih mengenaskan akibat lisan yang tak terjaga. Media yang semakin canggih turut pula memperparah hal ini. Dalam hitungan detik seorang yang baik bisa dalam sekejap mata menjadi orang yang terhujat. Atau sebaliknya orang yang sebenarnya tidak patut dipuja-puja dalam sekejap mata bisa mejadi pujaan semua orang.

Kata-kata yang manis memang terbukti bisa menghipnotis manusia. Ia bisa menghanyutkan.  Tutur kata yang manis juga bisa memotivasi orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan perbuatan mungkar. Maka sesungguhnya lisan itu nikmat bila digunakan untuk kebaikan, petunjuk dan keshalihan. Maka seseorang bisa masuk surga karena lisannya dan sebaliknya bisa tergelincir ke neraka juga karena lisan.

Wallahu’alam.

Foto ilustrasi: google

Profil Penulis:

Andi Sri Suriati  Amal, biasa dipanggil Inci, lahir di Bone, 2 April 1973. Sementara ini berdomisili di Kuala Lumpur, Malaysia. Buku solonya berjudul Role Juggling, Perempuan Sebagai Muslimah, Ibu dan Istri diterbitkan oleh Gramedia tahu 2013 Ibu empat anak ini dapat dihubungi di http://inci73.wordpress.com atau lewat facebook-nya (Andi Sri Suriati Amal). Dan kini bergabung di Komunitas Ummi Menulis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s